Gua ngerti mungkin nggak semua orang suka dengan pelajaran ekonomi. Tapi melalui artikel ini, izinkan gua untuk menyampaikan sebuah kenyataan bahwa pada akhirnya semua orang, cepat atau lambat, akan berurusan dengan uang. Terlepas dari apapun jurusan kuliah lo, apapun bidang ilmu yang lo tekuni, apapun karya hidup lo kelak, tidak ada profesi yang jauh dari uang.

Gua pribadi sebetulnya meyakini bahwa “mengejar uang” bukanlah tujuan hidup yang tepat. Kita bukan belajar untuk bekerja dengan tujuan “hanya” untuk mendapatkan uang, tapi kita belajar untuk berkarya dalam hidup, dan uang hanyalah media atau fasilitator agar kita tetap dapat berkarya dengan efektif – setidaknya itulah pendapat pribadi gua.

Didasari pemikiran itu, gua berkesimpulan bahwa semua orang setidaknya perlu memahami dasar-dasar ilmu ekonomi. Walaupun kelak lo akan berkecimpung pada bidang profesi yang kesannya “sangat jauh” dari dunia ekonomi, katakanlah seorang insinyur, dokter, programmer, atlit, desainer, ahli masak, youtuber, professional gamer, atau aktivis lingkungan sekalipun… lo tetap butuh memahami bagaimana uang bekerja.

Lha, memangnya kenapa kalau kita hanya fokus pada bidang yang ingin kita tekuni? Apa akibatnya kalo gue males belajar soal ekonomi? Minimal konsekuensinya ada 3 yang sekarang ada di pikiran gue:

  1. Lo akan melewatkan buanyaak peluang untuk dapat berkarya secara lebih efektif dan optimal.
  2. Bisa jadi lo harus membagi pikiran lo dengan masalah keuangan sehari-hari, bukannya fokus untuk berkarya lebih jauh.
  3. Keputusan keuangan yang salah, tidak melihat profesi subjeknya, dan semua itu bisa dihindari dengan pengetahuan dasar ekonomi.

Supaya lebih mudah dibayangkan apa maksud dari 3 point gua di atas, izinkan gua menceritakan kisah ironis dari seorang petinju legendaris bernama Mike Tyson:

Buat pecinta olahraga tinju, nggak mungkin ada yang nggak kenal dengan sosok Mike Tyson. Dia adalah petinju legendaris yang sangat fenomenal pada era 80-90an, karirnya meroket ketika dia berhasil merebut gelar juara dunia di usia 20 tahun, dan menjadi satu-satunya petinju kelas berat yang berhasil mengawinkan gelar WBA, WBC, dan IBF sekaligus.

Di masa puncak kejayaannya, Tyson merupakan salah satu atlit dengan penghasilan terbesar sepanjang sejarah. Tercatat sepanjang karirnya, Tyson meraih penghasilan total sekitar $300 juta USD, atau sekitar Rp 5,5 triliun jika dikalibrasi dengan nilai uang tahun 2017. Wah gila, banyak banget ya duitnya si Tyson! Kekayaannya sampai triliunan begitu sih mana bisa habis tuh sampai 7 turunan!

Tapi kenyataan berkata lain. Percaya atau nggak, pada tahun 2003, Tyson jatuh bangkrut dan kehilangan semua kekayaannya, bahkan meninggalkan utang sebesar $23 juta USD atau sekitar Rp 207 miliar!

Waduh, gimana ceritanya tuh duit Rp 5,5 triliun bisa habis semua bahkan sampai meninggalkan utang?? Yaah, kalo dilihat dari “kacamata” umum sih, semua itu disebabkan karena gaya hidup Tyson yang nggak pernah puas dalam berbelanja. Seluruh kekayaannya habis untuk membeli mansion (rumah mewah), koleksi mobil dan motor sport, perhiasan, gadget, dan hal-hal antik gak masuk akal lainnya. SIngkat cerita, semua kekayaan itu ludes, sampai semua harta benda Tyson disita oleh bank, bahkan meninggalkan utang pajak, pengacara, dll. Kebangkrutan Tyson adalah salah satu contoh klise kejatuhan keuangan pribadi yang sangat ekstrim.

Tapi kalo dipikir-pikir lagi, apakah alasan dari kebangkrutan Tyson itu sesederhana hanya karena dia terlalu boros & konsumtif? Menurut gua sih nggak, akar masalah bukan sesederhana “terlalu boros”, tapi karena Tyson tidak punya pengetahuan ekonomi yang mendasar untuk mengelola keuangannya. Tyson tidak mengerti bagaimana cara uang bekerja. Pada saat itu, Tyson tidak tau (atau bahkan tidak mau peduli) tentang konsep inflasi, tentang kewajiban pajak, apalagi tentang manajemen keuangan.

Mungkin ada yang berpikir bahwa kisah kebangkrutan Tyson itu contoh yang sangat ekstrim. Gua setuju kalo dalam skala uang, kebangkrutan Tyson itu ekstrim banget. Tapi kalo dari segi pola kasusnya, apa yang terjadi pada Tyson itu sering banget terjadi pada orang-orang yang hanya fokus mempertajam bidang ilmu atau kemampuannya, tapi tidak meluangkan waktu untuk mempelajari hal-hal lain yang fundamental, misalnya pemahaman dasar ekonomi dan cara mengelola keuangan.

Emang sepenting itukah mempelajari bagaimana uang bekerja?

Yup, penting banget – setidaknya itu menurut pendapat gua pribadi. Sekali lagi, bukan karena gua mendewakan uang atau ilmu ekonomi, tapi kita perlu kondisi finansial yang sehat untuk tetap bisa berkarya, terlepas apapun bidang yang kita tekuni. Rasanya ironis sekali, jika ada orang yang berkontribusi besar dalam karya bidang ilmunya, tapi terpaksa langkahnya terhenti hanya karena kesulitan keuangan. Berapa banyak kita dengar cerita musisi berbakat yang terlilit utang, atau seniman kreatif yang sehari-harinya masih harus pusing soal keuangan pribadi, atau ahli masak yang handal tapi restoran yang dikelolanya bangkrut?

Oke, apa yang mau gua tulis di artikel ini, memang BUKANLAH resep jitu atau jurus sakti untuk bisa memahami kompleksitas dunia ekonomi dan keuangan. Tapi justru hal-hal yang sangat mendasar dan fundamental terkait ekonomi yang seringkali terlupakan, padahal manfaatnya besar banget untuk diketahui oleh semua orang, terlepas dari apapun bidang profesinya. Nah, apa aja sih pelajaran mendasar ilmu ekonomi yang perlu diketahui?

 

PELAJARAN 1: Konsep Inflasi

Hal pertama yang sangat penting untuk dipahami semua orang adalah konsep inflasi. Semua orang, terlepas apapun profesinya, perlu mengetahui bahwa nilai uang AKAN TERUS menyusut. Bahwa nilai Rp 100.000 di tahun 2007 itu berbeda dengan Rp 100.000 pada tahun 2017, dan pasti akan berbeda dengan Rp 100.000 di tahun 2027.

Itulah hukum inflasi, dimana harga-harga barang akan naik setiap tahunnya, dan pasti akan terus naik pada tahun-tahun ke depannya. Fenomena inflasi ini adalah pola ekonomi yang SANGAT WAJAR dan LUMRAH. Terjadi di negara manapun, dari negara yang ekonominya sangat maju sampai yang ekonominya tertinggal, semua PASTI akan mengalami inflasi setiap tahun. Sekali lagi, inflasi dalam range tertentu adalah fenomena ekonomi yang wajar, dan karena ini PASTI akan terjadi, maka dari itu sudah merupakan keharusan kita untuk memperhitungkan faktor inflasi dalam setiap keputusan keuangan kita.

Ironisnya, banyak orang yang masih begitu awam dengan hukum dasar ekonomi ini, masih banyak yang tidak menyadari bahwa inflasi adalah indikator yang sangat penting untuk menjadi tolak ukur keputusan keuangan. Ciri-ciri dari mereka yang belum memahami prinsip dasar ekonomi ini, (khususnya mekanisme inflasi) adalah mereka yang masih suka bertanya-tanya tipikal pertanyaan seperti ini:

  1. “Kenapa yah negara gak mencetak uang sebanyak mungkin aja supaya semua orang bisa kaya dan kesejahteraan masyarakat bisa merata?”

  2. “Kenapa harga barang setiap tahun selalu naik ya? Pemerintah kerjanya ga becus nih! Apa ngga bisa sesekali harganya jadi turun?”

Nah, apakah lo termasuk yang suka bertanya-tanya atau ngedumel seperti itu? Kalo iya, berarti lo belum PAHAM apa itu INFLASI. Buat yang belum ngerti, nggak usah malu atau minder, dulu juga gua sempet nggak ngerti kenapa pemerintah nggak nyetak duit aja sebanyak-banyaknya supaya bisa nolongin orang miskin kok, hehe…

Buat lo yang penasaran ingin memahami konsep inflasi secara menyeluruh, gua sangat menyarankan lo untuk membaca penjelasan seru dari Kak Meby terkait inflasi sebagai berikut : Kenapa sih setiap tahun harga barang selalu naik? Gua jamin setelah lo baca artikel itu, 2 pertanyaan di atas akan terjawab tuntas. Nah, setelah lo memahami betul apa itu inflasi, tidak hanya pandangan kita tentang nilai uang terhadap waktu yang akan dirombak total, tapi juga keputusan-keputusan penting kita dalam hal keuangan.

 

PELAJARAN 2: Prinsip Nilai dalam ekonomi

Pelajaran penting berikutnya adalah prinsip nilai dalam ekonomi. Maksudnya gimana sih nilai itu? Sederhananya kita perlu memahami mengapa sesuatu itu dianggap bernilai atau berharga. Mengapa hal itu dianggap bernilai, sejauh mana nilainya, dan apakah ada yang bisa menggantikan nilai tersebut? Contoh masalahnya akan coba gua illustrasikan dalam simulasi percakapan 2 muda-mudi seperti ini (bukan nama sebenarnya) :

  • Lee Min Ho : “Eh Moon, kamu tau nggak kenapa emas dianggap lebih bernilai daripada logam lainnya?”
  • Moon Chae Won : “Kenapa ya, Ho? Mungkin karena emas adalah logam mulia?”
  • Lee Min Ho: “iya tau, TAPI KENAPA emas dianggap logam mulia? Kenapa dihargai lebih mahal?”
  • Moon Chae Won: “Wah, nggak ngerti deh, udah dari sononya mahal kali ya?”

Buat lo yang belum bisa jawab kenapa emas dianggap lebih berharga dari senyawa padat kimia lainnya, atau cuma bisa jawab “ya karena udah dari sononya mahal” atau “karena bentuknya indah, jadi bisa dijadikan perhiasan” dan jawaban-jawaban lucu lainnya, berarti lo belum memahami konsep nilai dalam ekonomi. 

Contoh kasus lain yang masih nyambung dengan emas, bisa kita lihat pada kebudayaan bangsa Aztec 500 tahun lalu yang sangat berkelimpahan dengan emas tapi justru menganggap biji cokelat jauh lebih berharga daripada emas. Eit, itu bukan berarti bangsa Aztec bodoh ya, bagi mereka emas-emas itu emang hampir ngga ada nilainya, ngga bisa dimakan juga toh? Bagi Bangsa Aztec, emas itu cuma bahan dasar bikin kerajinan dan pajangan doang. Nah lho, kok bisa gitu sih? Kok bisa ada sekelompok masyarakat yang menganggap emas sangat berharga (misalnya Spanyol yang bertemu dengan Aztec 500 tahun lalu), sementara bagi kelompok masyarakat lain, emas dianggap tidak berharga! Nah, kalo lo masih bingung, berarti lo belum memahami konsep nilai dalam ekonomi. 

Bicara soal konsep nilai dalam ekonomi, nggak sedikit juga yang suka berpikiran simpel, bahwa sesuatu yang bernilai dalam ekonomi, adalah sesuatu yang BERMANFAAT dan penting bagi manusia secara fundamental. Kenyataannya, konsep nilai dalam ekonomi tidak selalu sejalan dengan nilai “manfaat”. Nggak percaya? Sekarang coba pikirin aja, udara dan sinar matahari bermanfaat nggak bagi manusia? Bermanfaat banget! Udara dan sinar matahari punya nilai ekonomi nggak? Nggak ada nilainya! Nggak ada yang mau nukerin udara dan sinar matahari dengan beras sekilo. Nilai ekonomi itu nggak selalu berhubungan dengan nilai manfaat, dan juga sebaliknya.

Nah, konsep nilai dalam ekonomi ini adalah prinsip awal yang perlu lo ketahui agar memiliki perspektif yang tepat dalam mengambil keputusan ekonomi, khususnya dalam praktek pertukaran nilai atau transaksi jual-beli, baik dalam berbisnis, berdagang, maupun dalam berinvestasi. Buat lo yang ingin memahami lebih jauh tentang konsep nilai dalam ekonomi, bisa baca penjelasannya pada link berikut ini:

 

PELAJARAN 3 : Manajemen Keuangan

Semua orang, terlepas apapun karya hidup dan profesinya, pasti nggak akan jauh dengan uang. Masalahnya banyak orang yang nggak mau pusing dalam mengatur keuangannya, pokoknya fokus aja cari duit aja deh! Pengelolaannya bodo amat, yang penting masih bisa nabung dan jangan terlalu boros aja. 🙂

Bisa jadi, mekanisme hemat+menabung itu “cukup” dalam perputaran uang bulanan yang sederhana. Contohnya seperti yang mungkin lo alami sekarang (gua asumsikan mayoritas pembaca blog zenius berada di umur pelajar & mahasiswa) sebagai pelajar atau anak kuliahan: sumber pemasukan dari duit jajan atau kerja sampingan, pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari atau hiburan.

Dengan gaya hidup sederhana + gemar menabung, mahasiswa kere juga bisa bebas dari masalah keuangan. Masalahnya, pola perputaran uang di dompet lo nggak akan sesederhana itu ketika nanti lo masuk ke dunia kerja. Pada jenjang dunia kerja, lo akan berhadapan dengan tagihan pajak, iuran asuransi dan dana pensiun, tagihan cicilan kredit, laju inflasi, bunga pinjaman bank, dan masih banyak lagi.

Jadi kabar buruknya, manajemen keuangan di dunia kerja itu tidak akan sesederhana MENABUNG dan BERHEMAT saja. Selama lo nggak tau (atau tidak mau tau) tentang bagaimana uang berputar di rekening bank, jangan heran kalau nanti jumlah tabungan lo nanti ga nambah-nambah, atau mungkin bertambah sedikit tapi tetap nggak mampu mengejar laju inflasi (kenaikan harga) yang secara teknis artinya sama aja dengan duit lo berkurang.

Terus gimana dong caranya supaya punya manajemen keuangan yang baik? Langkah pertama buat lo: Kenali instrumen-instrumen lain untuk menyimpan asset lo, ada banyak cara lain untuk nyimpen duit supaya pertumbuhannya bisa mengejar inflasi, selain dengan hanya “menabung” di bank.

Contohnya instrumen lain itu apa aja sih? Banyak banget, ada deposito, reksa dana, obligasi, logam mulia, mata uang asing, saham, properti, dan masih banyak lagi. Oke, pada awalnya mungkin lo menganggap nama-nama itu begitu asing, canggih, mewah, rumit, atau mungkin lo mikir bahwa instrumen-instrumen itu adalah “mainan canggih” anak-anak ekonomi dan sama sekali bukan ranah orang awam. Padahal realitanya, tidak hanya anak ekonomi saja yang harus berhati-hati dalam menyimpan uangnya, tapi semua orang juga perlu tau dan hati-hati dalam menyimpan uang, agar nilainya terus bertumbuh, minimal bisa mengejar inflasi.

Terus sebaiknya pilih instrumen yang mana dari sekian banyak pilihan itu? Nah kalo soal itu, sebetulnya tergantung dengan situasi dan rencana keuangan lo baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Karena setiap instrumen itu, punya nilai plus dan minus-nya masing-masing yang perlu disesuaikan dengan situasi keuangan serta rencana lo ke depannya. Saran gua, dari sekarang lo mulai deh pelajari pelan-pelan setiap instrumen itu, jadi nanti ketika lo sampai di dunia kerja, lo udah punya perencanaan keuangan yang lebih matang.

 

Posted by intanbrahmanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s